Menurut perempuan yang satu ini, mimpi dan impian adalah 2 hal yang berbeda. Mimpi adalah bunga tidur, sedang impian adalah apa yang kita usahakan setelah terbangun dari tidur. Jadi, apakah mimpimu bisa jadi impian?

“Beranilah bermimpi, berusaha, dan terus berdoa untuk esok yang lebih baik,” begitulah pesan Agustin Handayani, perempuan yang sehari-hari berprofesi sebagai karyawan Tata Administrasi Sekolah di SMAN 3. Yani, sapaan akrabnya, mengisi waktu luangnya dengan menulis. Sudah ada 3 novel yang dihasilkannya, yakni: Hey, I Love You (2017), Lost and Love (2018) dan Petrichor (2018).

Ya, menjadi seorang penulis adalah impiannya. Dan untuk itulah dia bangun dari tidur dan mengusahakan mimpi itu jadi nyata bersama beberapa komunitas menulis yang ada di kotanya bermukim, Probolinggo. Lantas, bagaimanakah perempuan yang satu ini menjalani impiannya? Simaklah percakapan kami~

Sebutkan 3 hal yang menggambarkan Yani?

Apa, ya? Mungkin kopi, hujan dan menulis. Setiap hari aku suka minum kopi dan menulis. Dan di beberapa kesempatan aku suka hujan.

Di mana Yani menghabiskan masa kecil?

Ah, aku itu bisa dibilang anak rumahan. Aku nggak pernah ke luar kota dalam jangka waktu yang lama. Jadi masa kecilku ya di Probolinggo saja, nancep aja gitu.

Wah, kalo kata orang Madura itu ‘tombu tanet’. Jadi hal apa dong yang paling dikenang dari masa kecil, kalau gitu?

Hmm, sepertinya yang paling aku inget adalah saat aku ikut paman dan kakak mandi di sungai.

Zaman kecil kan jarang banget mikir jijik atau kotor. Jadi, aku ikut paman mandiin sapi di sungai sekalian ikut mandi juga di sana. Bareng sapi. Hahaha. Itu juga bareng kakak dan anak kecil seumuran lainnya, dan yahh … aku cewek satu-satunya di situ. Jadi, dulu aku tuh sempet tomboy juga. Mungkin karena efek lingkungan yang dominan cowok.

Nah, bener. Masa kecil zaman dulu kan masih belum tersentuh kemajuan teknologi, jadi semua kesenangan pasti berkaitan dengan alam.

Iya. Semua masa kecil hanya tentang bermain dengan alam dan teman-teman. Mandi di sungai, mencari jangkrik di sawah, manjat pohon jambu di pematang sawah orang, dan banyak lagi.

Trus, apa nih yang memotivasi Yani terjuan ke dunia nulis?

Bisa dibilang pelarian. Karena sebelumnya aku terjebak dalam dunia game yang cukup lama. Bisa dibilang, itu pertama kali main game dan langsung kecanduan. Gamenya cukup menarik, ya. Karena di setiap guild ada beberapa orang dan lumayan deket. Hingga akhirnya lambat laun mereka mulai pensiun dari game dan mengurus kesibukan atau masa depan masing-masing. Jadi, di situ aku mikir buat cari pelarian dari game itu. Kebetulan sejak dulu aku sudah suka baca, jadi tergerak saja pengen coba-coba nulis.

Kira-kira sejak kapan?

Kira-kira sih Agustus 2017. Itu awal aku nulis.

Pernah nggak sih merasa nggak mampu jadi penulis karena beberapa alasan? Misal, karena lahir di Probolinggo?

Jujur, pernah. Hehehe. Karena yang aku ketahui, dulu dunia tulis menulis di Probolinggo nggak begitu mencolok. Entah karena aku saja yang kurang update. Jadi aku mikir, kayaknya aku harus otodidak belajar menulis sendiri. Tapi kembali lagi, menulis memang bisa sendiri, tapi jadi penulis butuh kawan. Hingga aku bisa ketemu dengan beberapa komunitas penulis di Probolinggo. Jadi saat ini aku optimis memperdalam hobiku.

Bagaimana sih potensi kepenulisan di kota Probolinggo?

Sebenarnya banyak penulis di Probolinggo ini. Mengingat, banyak juga buku-buku yang dihasilkan oleh penulis lokal. Hanya saja, mereka kurang bisa dilihat oleh orang luar. Dan bila ada komunitas menulis pun, tidak semua penulis tersebut dapat gabung dan sharing bareng temen-temen lainnya. Aku yakin sih, suatu saat nanti, entah di tahun keberapa, Probolinggo akan menghasilkan puluhan penulis produktif yang berbakat.

Bagaimana Probolinggo mempengaruhi Yani dalam berkarya?

Probolinggo sudah sukarela menjadi tanah kelahiranku dan keluarga. Memberikanku kesempatan untuk mengembangkan potensi dan terus berkarya. Di Probolinggo pula aku bisa bertemu teman-teman penulis lainnya dan saling berbagi ilmu dan pengalaman. Jadi, Probolinggo sangat berpengaruh dalam hidupku bahkan sejak aku lahir

Buku apa yang Yani baca saat kecil atau buku pertama kali yang dibaca?

Sejak kecil? Aku nggak begitu inget judul bukunya. Cuma seingetku aku itu maniak banget sama fabel. Hingga sekarang sih aku masih baca fabel di buku-buku paket SD. Fabel pertama yang aku baca itu tentang mengapa ayam tidak bisa terbang. Aku sampek hapal betul alur kisahnya. Hehehe.

Iya. Kalo masa kecil emang yang paling nempel di hati cerita fabel, ya?

Yep! Apalagi dunia anak-anak dipenuhi dengan fabel di kancil yang cerdik. Hahaha

Jadi, kalo boleh tahu siapa penulis idolamu?

Semua penulis sih adalah idola buat aku. Karena mereka pastinya sangat jago dan yahh … punya banyak pengalaman lebih. Tapi ada 3 penulis yang aku idolakan. Ken Hanggara, Hara Hope, Stebby Julionatan. Karena Kak Stebby penulis lokal yang membuat aku semangat bahwa Probolinggo nggak kalah keren dengan Yogyakarta atau penulis dari kota besar lainnya.

Menurut Yani, apa definisi keberhasilan? Dan sejauh ini keberhasilan atau prestasi apa yang paling berkesan? Kenapa?

Keberhasilan buat aku adalah sesuatu yang kita capai dengan kerja keras dan usaha hingga saat kita mencapai keberhasilan tersebut, kita akan paham bahwa hal itu benar-benar berharga. Prestasi atau keberhasilan apa yang berkesan? Sulit juga, ya. Hehe. Karena aku pribadi masih merasa belum menemukan keberhasilan tersebut. Kenapa? Karena sampai saat ini aku masih berproses dan berusaha mendapatkan keberhasilan tersebut.

Terakhir nih, apa sih harapan Yani pada generasi muda di Probolinggo?

Harapan aku nggak muluk-muluk, ya! Terus belajar dan cari passion masing-masing. Jadilah pemuda yang kreatif dan inovatif. Terus berjuang dan berkarya. Jangan hanya berani bermimpi, tapi bangunlah dan jadikan mimpimu sebagai impian yang nyata. (Problink)