Sedari kecil mengaku sebagai sosok pendiam dan datar-datar saja, Anita Heningtyas Kantoor (baca: kantur, -nama sebuah marga) atau yang biasa dipanggil Mbak Anita, kini selalu menjalani hari-hari penuh kesibukan. Dengan nada, melodi, irama dan memadu tinggi rendah suara dalam jalinan kebersamaan. Walau katanya suka diam, dikenal jutek, ketus dan dicap sombong, Problink rasa semua anggapan itu keliru. Sebab ketika menulis paragraf ini, redaksi masih ingat betul kecepatan bicara kala beliau menjabarkan lika-liku kehidupannya. Whuzzzz..... Angin Gending lewaatttt..... Hahaha....


Memercayai kekuatan The Power of Kepepet, perempuan yang lahir di Jakarta pada tanggal 20 November 28 tahun silam ini, mulanya tidak atau barangkali cuma delmos (baca: ogah-ogahan) dalam menerjuni dunia tarik suara. Namun, perjalanan panjang dari lantai gereja sampai titik saat ini adalah residu akan adanya kekuatan ‘terpaksa’. Maksudnya, apa nih Mbak Anita??? Simak hasil pacapa Problink di bawah ini.

Tiga hal yang menggambarkan Mbak Anita, apa saja sih?

Waduh, apa ya.... Kalau disuruh milih kata-kata aku kok uaanggeelll..... (baca: sulit).

*diam-penuh-syahdu

Hmmm.... Mungkin aku fast learner, open minded dan penuh pertimbangan. Fast learner, artinya gini, semua yang aku geluti sampai sekarang, mulai di piano, vokal, mengajar orang secara private maupun massal dan keroyokan, nge-MC, shooting film, itu semua hal baru buatku.  Jujur saja aku dulunya orang akademis-sentris yang gak bisa jauh dari matematika, bahasa Indonesia dan IPA. Jadi anggapanku, di luar hal-hal itu hanya akan membuang-buang waktu.

Tapi seiring berjalannya waktu, mulai belajar piano dan menjadi mahir kurang dari 3 tahun. Yang dulunya hanya sekedar tahu, “ooohh... begini caranya main piano” sekarang malah sampai bisa ngajari orang. Ngomong di depan orang itu dulunya juga susah, tapi akhirnya ya sekarang sering nge-MC. Aku belajar hal-hal baru itu ya akhir-akhir ini saja.

Open minded-nya itu, dulunya aku kaku. Sampai sekarang lumayan kaku juga sih.... Pokoknya aku dulu orientasinya adalah nilai-nilai-dan-nilai. Semakin kesini kok yang membantu untuk hidup itu ndak ada akademis-akademisnya gitu lho... Ya, harus menerima, mau tidak mau. Terbuka dengan hal-hal baru, open-minded.

Mbak Anita (tengah) saat gratitude konser setelah memanangkan Lomba Varsovia Cantat 2012

Masa kecil Mbak Anita dihabiskan dimana?

Aku lahir di Jakarta, pas TK B, pindah ke Probolinggo tepatnya di perumahan dekat Taman Siswa. Itu tuh, sebelahnya museum Dr. Saleh yang sekarang sudah jadi sekolahan. Dulu disitu ada perumahan kecil-kecil. Kemudian pindah lagi di Mastrip depan Kejaksaan, saat itu masih sepi ya...

Hal apa yang paling berkesan saat masih kecil dan terus diingat sampai sekarang?

Memang dasarnya aku lempheng (baca: kelewat polos), saat masih TK B, baru pindah dari Jakarta ke Probolinggo, masih kecil juga. Cultural shock-nya berasa. Jadi ceritanya pulang sekolah naik becak bareng nenek yang seorang guru. Dari Jalan Cokro ke Mastrip kan arahnya.

Nah, jaman dulu area dekat Gladak Serang itu masih rombuh (baca: kurang tertata). Masih banyak tegalan atau lahan yang ditanami pisang dan pohon-pohon lain. Pas lewat dekat sampingnya SMP 5 sekarang, ada pohon pisang yang sedang berbunga dan jantung pisangnya masih ada. Aku penasaran dengan benda itu dan tanya ke nenek, aku manggil beliau dengan sebutan ‘ibuk’.

‘Buk, itu apa?’
‘Oh itu ontong’


Yang aku tangkap dari beliau adalah kata ‘lontong’. Dan parahnya lagi pemahaman itu terbawa sampai aku duduk di bangku SMPK. Suatu ketika aku makan bakso di belakang SMP. Itu bakso yang pertama kali aku beli dan aku kenal pula. Duuhhh.... betapa freaknya aku dulu...

Ketika penjualnya bertanya untuk memakai lontong apa tidak, aku mengiyakan saja. Tiba-tiba aku kaget.

“Kok lontongnya gak alami ya?”
“Lontong alami maksudnya seperti apa, Nit?”
“Itu, yang mecungul di pohon pisang”
“Ya ampun, itu ontong Nit, bukan lontong”


Sontak semua yang ada disitu ikutan tertawa. Aku malu sejadi-jadinya dan terngiang-ngiang sampai sekarang. Baru sadar kalau sudah menjadi ‘keliru’ memahami ‘ontong’ sebagai ‘lontong’ setelah beberapa tahun hidup di Probolinggo. Hahaha.....

Hmmm.... Problink merasa tersentuh Mbak. Haru. Hehehe.... Ngomong-ngomong apa yang memotivasi Mbak Anita untuk terjun di dunia paduan suara?

Sebenarnya karena keterpaksaan keadaan ya. Hahaha.... Untuk ikut-ikutan saja sebetulnya. Ndak nyangka sampai pada titik seperti sekarang, dimana sudah bisa jadi guru dan mengajar paduan suara untuk anak-anak SD, guru, orang-orangtua, baik private dan massal.

Sejak kapan?

Aku bersinggungan dan akhirnya masuk ke dunia paduan suara sejak aktif di gereja. Kan sering nyanyi, tapi ogah-ogahan. Pernah juga lolos jadi anggota paduan suara pas SMA, tapi ya itu, sekedar ikutan. Nah, ketika kuliah, semester 1, ikutan UKM paduan suara kampus. Dari yang awalnya menjadi panitia penyelenggara seleksi paduan suara, iseng-iseng ikutan audisi anggota paduan suara kampus yang kebetulan sedang akan mengikuti lomba di luar negeri, rame-rame, 40 orang juga. Kayaknya seru gitu, emang seru sih... Hahaha

Niatnya satu kali ikutan audisi, lolos tidaknya bukan masalah sebab emang seleksinya ngalah-ngalahin Indonesia Idol yang waktu itu juga booming di televisi. Karena seleksinya saja super ketat dan susah, targetnya ya kalau lolos, ikutan lomba sekali, terus selesai. Eh, sampai sekarang tetap di dunia paduan suara. Lulusan Universitas Airlangga jurusan Kesehatan Masyarakat lho ini. Hahaha.....

Dari situlah titik dimana bisa mengenal dan berkembang bersama dunia paduan suara. Lolos seleksi anggota paduan suara fakultas, tahun 2012 berangkat ke Eropa, dan tahun-tahun berikutnya selalu turut dalam konser-konser.

Kalau ditanya sejak kapan mulai ngajar, itu saat ada PSP, pekan seni itu lho... Kan dua tahun sekali, jadi semua sekolah bingung cari pelatih, kebetulan ada tawaran dari SDN Tisnonegaran 1 melalui Kak Stebby yang sudah ditawari ngajar puisi juga. Aku bareng Kak Ucis ngajar mereka. Itu pertama kali aku ngajar anak SD, terus mereka satu team dapat juara. Dari situlah akhirnya link-link tawaran mengajar paduan suara muncul dan terus berdatangan untuk mengisi perhelatan-perhelatan yang lain.

kegiatan mengajar di SDN Tisnonegaran 1 [menyabet juara 3 dan dirigen terbaik - PSP 2016]


Bagaimana potensi dunia tarik suara di kota Probolinggo?

Potensinya gede. Anak-anaknya masih punya antusias besar. Kalau masalah talent dari Probolinggo, sudah ada ya. Contohnya si Viktor, yang lolos seleksi di tingkat kota dan sekarang sedang proses seleksi provinsi dalam rangka persiapan lomba Gita Bahana se-Indonesia di Istana Negara. Dan kebetulan aku yang diberi kepercayaan untuk mengajari dia. Hehe...

Paduan suara gak selalu melulu untuk komunitas Kristiani kok. Biasanya orang skeptis kalau paduan suara itu identik dengan team gereja dan orang Nasrani. Tapi sebetulnya semua orang punya potensi untuk berkarya di dunia tarik suara ini. Apalagi di Probolinggo.

Dalam paduan suara kan dikenal genre masareno sans, classical, romantic, dan modern. Nah akhir-akhir ini ada aliran yang trending yakni Folk Song atau lagu-lagu khas daerah yang bisa dinyanyikan semua lapisan, dikolaborasi dengan alat-alat musik daerah yang pada akhirnya akan menyatukan segala perbedaan yang ada.

Prestasi apa yang berkesan di dunia tarik suara?

Menyabet Golden Lyra, lombanya di universitas musik tertua di Polandia, Uniwersytet Muzyczny Fryderyka Chopina atau Universitas Musik Frederik Chopin. Ya bareng 40 orang itu pas masa kuliah. Kalau tidak salah tahun 2012 bulan Oktober minggu terakhir. Moment ketika Idul Adha hari itu juga.

potret Universitas Musik Frederik Chopin, Polandia [credit: wikimedia.org]



Pengaruh apa yang diberikan Probolinggo kepada mbak Anita?

Ya berpengaruh, memotivasi. Mulai dari bermain musik piano dan vokal, dengan keadaan yang serba terbatas di Probolinggo sampai akhirnya bisa mengolah potensi muda-mudi Probolinggo seperti sekarang. Dulu masih kurang dapat dukungan, kurang berkembang. Dengan segala keterbatasan itu akhirnya memotivasi untuk dapat membuktikan bahwa kemampuan anak Probolinggo gak kalah dengan anak-anak dari kota lain.

Pesan untuk semua team paduan suara di Probolinggo?

Penampilannya harus aktraktif. Koreonya gak monoton. Harus all out, lenggak lenggok, gak baris diam atau berusaha membahasakan lagu lewat gerakan tangan secara literal. Kan kebiasaan team paduan suara di Probolinggo ini, kalau ada lirik ‘ambilkan bulan’ maka gerakan koreografi paduan suaranya ya gerakan memetik bulan atau tangan menggapai langit. Harusnya tidak melulu seperti itu. Itu gaya tahun 80-an, sementara dunia paduan suara juga dinamis, mengikuti selera pasar juga sih sebetulnya.

Buku apa yang menginspirasi Mbak Anita?

Ini ini, bukunya... Apa sih lupa... Pokoknya ceritanya dia intinya tentang ini lho, ada satu cewek tinggal di kota kecil dan daerah terpencil kemudian mendapat tawaran berbuat jahat. Yang kesimpulannya bahwa kebaikan dan keburukan itu berjalan sama-sama, tergantung kita. Tidak ada kebaikan mutlak, juga tidak ada keburukan mutlak. Semua itu politik terhadap kelompok tertentu untuk kepentingannya masing-masing.

Judul bukunya kalau tidak salah The Devil And Miss Prym

Wuiihhh.... kalau penulis idolanya?

Hmmm siapa ya, Paulo Coelho. Tapi aku tipe pembaca yang tentatif sesuai momen apa yang ada di kehidupanku. Istilahnya, si buku yang mengikuti mood-ku. Dulu suka drama pas masih SMP, lantas SMA beda lagi, karena SMA ada acara baptis besar, yang dibaca teori konspirasi terutama masalah agama. Emang dipengaruhi suasana hati sih... Jadi tidak ada penulis idola yang saklek.

Definisi kesuksesan menurut Mbak Anita itu apa?

Kesuksesan itu kalau kita sudah melakukan pekerjaan kita tanpa beban dimana pekerjaan kita adalah memberi, membantu dan berbuat baik. Seharusnya memang kebaikan itu dianggap bukan sesuatu yang mewah, melainkan sesuai yang untuk seharusnya dilakukan. Jadi berbuat kebajikan tanpa beban. Dianggap hal yang normal atau biasa-biasa saja.

Mimpi Mbak Anita ke depan mengenai dunia paduan suara apa?

Mimpi...? Hmmmmm......

*Hening

Mimpi untuk mengadakan pertunjukan langsung atau konser ke orang-orang yang memiliki tekad, utamanya muda-mudi, sehingga bisa praktik. Mimpi pengen bikin konser untuk semua lapisan. Bukan hanya perhelatan PSP yang dua tahun sekali.

Pesan untuk pemuda pemudi Probolinggo?

Jangan minder. Semua kehebatan yang kamu lihat diluar Kota Probolingo bisa dipelajari. Jangan minder, jangan minder dengan ke-probolinggo-annya. Harus terus belajar agar kualitas sumber daya manusianya bisa sama dengan kota-kota lain yang duluan lebih maju daripada Probolinggo.