Pemuda berikut yang begitu ingin Problink kulik profilnya adalah Adien Gunarta, seorang perancang huruf asal Kelurahan Sumbertaman, Probolinggo. Ya, kabarnya sejak SMP, ia telah menciptakan ratusan fon yang dibagikannya secara bebas di internet. Bahkan, yang membuat Problink kagum nih, karena ada karya fon Adien yang dipakai dalam film Despicable Me.

Selain merancang huruf, Adien juga gemar menulis -baik fiksi maupun nonfiksi. Cerpen pertamanya berjudul "Rebellion" terbit di Radar Bromo pada 2013, yang kelak menjadi bagian dari karya bersama penulis Probolinggo, Yosephira dan Lelaki Ksatria. Di tahun yang sama, buku pertamanya tentang tutorial merancang huruf "Cara Mudah Membuat Font dengan CorelDRAW" diterbitkan oleh penerbit Andi. Dua tahun kemudian, kumpulan cerpen beraksara Jawanya "Kiambang" diterbitkan secara mandiri.

Adien lulus dari Ilmu Komunikasi, Universitas Airlangga dengan skripsi berjudul "Maskulinitas dan Femininitas pada Tipografi Kemasan Parfum", yang kemudian memberikannya kesempatan menjadi tenaga pengajar luar biasa dalam bidang penelitian tipografi di Departemen Komunikasi Unair. Dan... saat ini, Adien bekerja di Wikimedia Indonesia sebagai staf komunikasi.

Dalam waktu senggangnya, kata Adien, ia gunakan untuk menyunting Wikipedia Indonesia, dan ada kalanya juga Wikipedia Jawa. Ia juga mengembangkan situs Naraaksara.com, serambi untuk menampung tulisan-tulisan tentang huruf dan tipografi, khususnya di Indonesia. Ia juga adalah satu dari dua pendiri Kacapuri, usaha rintisan di bidang cendera mata kayu dan seni leter.

Sebutkan 3 hal yang menggambarkan seorang Adien?

Huruf, keindahan dan pengetahuan.

Di mana Adien menghabiskan masa kecil?

Di Probolinggo, tepatnya di pinggiran Perumahan Sumber Taman Indah, berbatasan dengan Mantong. Lingkungan ini dulunya banyak sawah dan banyak ikan dan kunang-kunang di kalinya.

Hal apa yang mengingatkan Adien pada masa kecil?

Saya paling suka berkebun bersama ibu ketika sore. Menaman tanaman toga, main di kali untuk mencari ikan dan basah-basahan, menangkap kupu-kupu, belalang atau serangga lainnya, mencari jamur, membangun bendungan kecil yang terbuat dari pasir, menjelajah tempat-tempat jauh bersama teman-teman. Di rumah, saya suka sekali membuat sesuatu, berketerampilan seperti menggambar, membuat komik, membuat miniatur bangunan dan kota, dan kadang juga menulis cerita.

Apa yang memotivasi Adien untuk menggeluti dunia desain fon?

Awalnya, gemar melihat huruf. Lalu, saya seperti bisa melihat dan menghargai cantiknya huruf.

Se-simple itu?

Ya, saya rasa, se-simple itu.

Kalau ditanya Adien seorang penulis atau desainer fon, di manakah posisi Adien?

Sebenarnya saya lebih sering tidak melabeli diri saya sebagai ini atau sebagai itu. Akan tetapi, jika dalam sebuah perkenalan, saya mungkin akan memperkenalkan diri sebagai desainer grafis.

Siapa saja orang yang karyanya kamu gemari?

Dalam dunia fiksi, saya menikmati karya-karya Ernest Hemingway,  James Joyce, Ahmad Tohari, Pramudya Ananta Toer, Linda Christanty, Eka Kurniawan dan Dea Anugrah. Desainer grafis-penulis yang saya takzimkan adalah Hanny Kardinata dan para begawan desain grafis Indonesia angkatan IPGI lainnya. Dalam hal tipografi dalam negeri, saya kagum terhadap karya-karya Aditya Bayu Perdana, Fadhl, Gumpita dan Andi Masry.

Bagaimana Probolinggo mempengaruhi Adien dalam berkarya?

Probolinggo berjasa dalam menumbuhkembangkan diri saya. Oleh karenanya, dalam karya fiksi saya, saya kira sudah barang pasti terpengaruh dengan pengalaman hidup saya di Probolinggo.

Buku apa yang kamu baca saat kecil?

Cerita nabi dan rasul atau siksa neraka, dan ensiklopedia. Saya sangat keranjingan ensiklopedia ketika kecil. Ayah dan kakak selalu saya minta meminjamkan buku-buku ensiklopedis dari perpustakaan kantor atau sekolahnya.

Dari sekian banyak prestasi yang Adien miliki, prestasi apa yang paling berkesan?

Tiap prestasi itu berkesan, tetapi setelah berhasil dicapai jadi tidak berkesan lagi. Mungkin itu namanya sindrom penyemu (imposter syndrome). Kalau saat ini ditanya yang mana yang paling berkesan, maka jawabannya adalah capaian yang paling baru: menjadi bagian dari Wikimedia Indonesia dan gerakan Wikimedia. Saya menemukan renjana saat menyunting Wikipedia, mengalihaksarakan konten ke dalam aksara-aksara di Nusantara, berbagi foto di Wikimedia Commons, menggeluti budaya konten terbuka dan membebaskan pengetahuan untuk umat manusia.

Apa yang Adien bayangkan dan harapkan bagi generasi muda Probolinggo?

Soal harapan, saya berharap pemuda Probolinggo bisa lebih intens berjejaring, berkomunitas, berkolaborasi dan menghabiskan waktu luang untuk belajar atau menggeluti hobi yang bermanfaat. Tubuh bisa di Probolinggo, tetapi pikiran boleh berkelana ke mana saja.