Selapas SMA ia menghilang. Ya, setelah mengguncang dunia sastra Probolinggo dengan cerpennya yang berjudul Gosip yang dibukukan dalam kumcer Komunlis: Yosephira dan Pangeran Bianglala, nama Abduh Khoir seperti lenyap ditelan gulita. Mmmm, sebenarnya kemarin, coba-coba saja Problink menghubungi WAnya, dan alhamdulillah… dibalasnya. Hahahaha.

AKU.jpg
Abduh Khoir: Tak pernah melupakan Probolinggo~

Lalu kami pun mulai mengobrol mengenai kesibukannya saat ini.

Katanya, untuk saat ini, hari-hari dihabiskan Khoir untuk bekerja di sebuah yayasan milik perusahaan nasional sebagai eksekutor program CSR (corporate social responsibility) di Sidoarjo, Jawa Timur. Sementara itu, sore hari, dikatakan pemuda eksentrik yang saat ini sedang mengambil studi Administrasi Negara di Universitas Terbuka, dihabiskannya untuk mengelola website pendidikan hasil rangkuman materi dan tugas-tugasnya di www.administrasinegara.site.

Ya, ya,ya… gimana nggak kami bilang eksentrik, sejak SMA Khoir memang dikenal memiliki kepribadian yang tertutup dan tak banyak menjalin hubungan pertemanan. Istilah keren masa kininya sih nolep society member. Hahahaha. Dan saat ini, katanya, ia lagi mendalami ilmu ketenangan batin inner-peace ala Buddhism.

Sudah, kalo itu nggak usah dipikir. Enak-enaknya Khoir aja dah!

Dan, di samping off record interview, berikut ini Problink unggah hasil ngobrol-ngobrol serius ala kami~

20190518_165524 (FILEminimizer).jpg
Khoir di salah satu acara CSR perusahaan tempatnya bekerja…

Sebutkan 3 hal yang menggambarkan seorang Khoir!

Peculiar. Tactful. A lone wolf. Selain Abduh atau Khoir, kadang saya dipanggil Beddhu.

Bagaimana Khoir menghabiskan masa kecil?

Saya menghabiskan masa kecil di sebuah kampung di belakang Pabrik Gula Wonolangan, Desa Kedungdalem, Dringu. Sedari kecil saya suka mengkoleksi koran bekas, memungut sobekan koran dari jalanan, mencuri majalah bekas di gudang pribadi milik tetangga dan… menyelundupkan koleksi buku perpustakaan sekolah. Semua itu, semata-mata untuk memuaskan hasrat saya pada kumpulan aksara. Hahaha.

Hal apa yang paling Khoir kenang dari masa kecil?

Hal yang paling membanggakan (setidaknya itu dimata orangtua) dan menjadi tradisi sampai terasa bosan adalah menyabet juara 1 sejak kelas 1 SD sampai lulus SMK. Prestasi yang kenyataannya, saya rasa, tidak bermanfaat sama sekali dalam mencari pekerjaan dan meniti karir dewasa ini. Tapi… bukan berarti ini sebuah sugesti terselubung untuk membangkang dan melawan orangtua dengan ‘standard klasik kesuksesan’ versi mereka ya.

Kalau boleh dideskripsikan, “seorang apakah” Khoir ini?

Kalau penulis sih bukan ya…. Sebetulnya saya bukan siapa-siapa. Cuma seorang anak manusia aneh yang hobi membaca, berargumen, berdebat di medsos, memproduksi sampah di Facebook, Ad Hominem dan membuka jasa bacok online untuk mengalahkan ego lawan di seberang sana. Hahaha. Saya bercanda.

Riwayat kepenulisan sih, sejak kenal dengan pujangga Probolinggo. Siapa lagi kalau bukan Kak Stebby Julionatan. Dikenalkan oleh guru kesenian, Bapak Khoirul Anam di SMKN 2 Kota Probolinggo, Kak Stebby mengilhami saya untuk berkarya lewat tulisan.

Dan berkat tumor-ganas-untuk-menulis dari Kak Stebby pula, bisa mengkoleksi beberapa penghargaan dan hadiah-hadiah. Diantaranya yaitu sebagai pemenang Lomba Cipta Puisi oleh Kedutaan Besar Australia di Indonesia (2015), pemenang sayembara Menulis Cerita Rakyat oleh Balai Bahasa Jawa Timur (2015), sayembara menulis GNFI, Madingsekolah.Net, dan lomba kepenulisan tingkat lokal. Karya yang pernah dimuat di media hanya ada dua, yakni di Koran Pantura dan Koran Radar Bromo – JawaPos Group.

Jadi kalau ditanya, sejak kapan mulai hobi menulis?

Mungkin sejak pandangan pertama bertemu Kak Stebby ya… Itu saat Komunlis mengadakan even Ayo Terbitkan Bukumu! di tahun 2015.

Bagaimana Probolinggo mempengaruhi Khoir dalam berkarya?

Sorro. Ya, satu kata, “sorro” itulah pengaruhnya. Sebagai benih Jawa Matraman yang hidup di dataran rendah bercorak pesisir yang terletak di jalur Pantura, yang saya tulis pun seputar kehidupan sehari-hari dan ceplas-ceplos. Ya ya ya, seperti kebanyakan orang Jawa Timur lah. Egaliter, blak-blakan dan penggunaan bahasa pasar yang kental, sekental getah pohon mangga bulan Agustus kali ya. Jadi ya, arapah?

Buku apa yang Khoir baca saat kecil?

Apa ya? Banyak lah. Rekornya sih pernah jadi Peminjam Buku Terbanyak Perpustakaan Kota Probolinggo Tingkat SMA/SLTA-sederajat yang diberi penghargaan langsung oleh Bu Walikota saat itu (tahun 2014). Masa SMP juga pernah berjuluk ‘Wakil Penjaga Perpustakaan’. Tapi kalau ditanya masa kecil, mungkin majalah Bobo hasil curian di gudang pribadi milik tetangga ya. Sebab saat itu masih belum kenal majalah Memo atau Liberty. Ups.

Siapakah penulis idolamu?

AS Laksana. Tulisan beliau selalu berhasil membuat saya mendesah keras dan mencapai puncak orgasme berkali-kali; kala bergumul hebat bersama hurufhuruf-tandabaca dalam rangkaian karangan. AS Laksana adalah seorang nabi, yang barangkali cuma satu orang bejad yang hobi makan mie ayam inilah umatnya.

Menurut Khoir, apa definisi keberhasilan? Dan sejauh ini, keberhasilan atau prestasi apa yang paling berkesan? Dan kenapa?

Hmmm….. keberhasilan itu, kalau sukses untuk berhenti menggunakan standard orang lain untuk mengukur kehidupan kita. Yang lain saya tidak mau jawab.

Apa pesan dan harapan Khoir pada generasi muda?

Mengejar kesuksesan? Sudah lah, jangan terlalu ngoyo… Life is sucks… You must be a good sucker to deal with it! Trust me! (Problink)