Owner sekaligus founder dari Boeloe Indonesia yang karya-karyanya sempat menghiasi Komunlis (Komunitas Menulis Probolinggo) dan Sae Sanget. Adalah pribadi yang humble dan easy going, terlahir tanggal 15 Januari 1992 di Singosari - Malang, yang adem-adem seger, katanya. Probolinggo adalah kota kedua bagi pria yang akrab dipanggil 'Itfan' ini semenjak ikut istri yang telah memberinya satu putri, buah hati kesayangannya.

Melalui saluran WA -seperti biasa-, Problink berhasil bercakap-cakap santai dengan alumni SMA Negeri 1 Lawang ini. Kiprahnya dalam dunia desain dan sumbangsih karya kepada Komunlis wajib diperhitungkan.

Sebutkan 3 hal yang menggambarkan seorang Itfan?

Hmmm.... Boleh dibilang aku ini geek, penikmat kopi, pecinta teknologi dan warna. Tahu artinya geek, kan?

Di mana Itfan menghabiskan masa kecil?

Aku menghabiskan masa kecil di Singosari, Malang. Singosari waktu itu adem-adem seger. Kalo pagi banyak orang tua keluar rumah buat menikmati udara pagi, termasuk aku yang suka banget mainin embun di rumput liar di depan rumah sampe matahari bener-bener muncul.

Hal apa yang paling dikenang dari masa kecil?

Hal yang paling kuingat waktu masih kecil bahwa aku ini suka banget nggambar. Meskipun gambarnya itu-itu aja, seperti kebanyakan anak-anak Indonesia lainnya yang berupa gunung kembar, jalan dan sawah. Tapi setiap kali menggambar itu pasti ada aja peningkatannya, sampai suatu saat di kelas VIII SMP, aku mendapat tugas kesenian yakni diminta menggambar pemandangan. Waktu itu aku coba sodorkan gambar gunung kembar itu dengan banyak sekali improvisasi. Eh, ndilalah dapet nilai 98 out of 100. Bangganya....

Figur Itfan Nur Wijayanto


Apa yang memotivasi Itfan ke dunia desain?

Sebenarnya, aku masuk dunia desain murni karena coba-coba. Waktu SMA diajarkan sedikit tentang desain dan aplikasinya di komputer yang kemudian aku teruskan belajar secara otodidak karena rasa penasaran saja. Setelah karya itu jadi, rasa penasaran semakin berkembang, akhirnya malah pengen nambah ilmu dengan mencoba masuk jurusan DKV di UM setelah lulus SMA. Namun sayang aku ndak lulus ujian masuk dan berakhir ikut kursus desain setara D1 di Malang.

Tapi aku sedikit kecewa masuk kursus ini, soalnya semua yang diajarkan disana sudah kukuasai semua, hingga akhirnya memilih otodidak lagi via Youtube, sambil jaga warnet. (*waktu itu dirumah punya usaha warnet milik kakak)

Di semester akhir kursus, aku ditawari ikut lomba kompetensi desain untuk peserta kursus tingkat nasional yang diadakan oleh kemdikbud saat itu. Alhamdulillahnya, dari hasil otodidak itu aku diganjar piala ketiga. Dari sana aku mulai menyadari bahwa desain adalah passion-ku.

Sejak kapan fokus di dunia desain?

Setelah lulus kursus desain, tepatnya di tahun 2011. Aku dan 5 orang temanku mencoba membuat usaha yang menggunakan keterampilan men-desain. Waktu itu merchandising yang jadi pilihannya, dengan mengusung nama Boeloe Digital. Usaha ini dimaksudkan untuk melayani produksi mug custom (mug bergambar yang disesuaikan permintaan klien), kaos, dan lain sebagainya.

Kira-kira dapat dua tahun berjalan, aku merasakan titik jenuh alias sudah bosan, karena tak ku temukan "aku" di setiap desain itu. Hingga sampai lima tahun terlewati dan yang tersisa di usaha ini hanya aku seorang, sementara yang lain sudah keluar dari team dan nyaman di tempat mereka bekerja yang baru.

Di tahun 2015, aku mengulang semuanya, kembali ke titik nol, istilahnya. Ditemani istriku, aku memberanikan diri mengganti imej Boeloe yang sangat “souvenir” menjadi metamorfosis baru yang lebih ke "desain". Pergantian nama juga aku lakukan, dari Boelo Digital menjadi Boeloe Indonesia.

Awalnya sangat sulit karena harus berpindah ke Probolinggo yang menurutku "tidak ramah desain". Beruntung di Probolinggo ada Komunlis dan Sae Sanget, dua komunitas literasi yang mengapresiasi karyaku. Hingga desainku mulai dikenal di Probolinggo, bahkan sempat ekspor ke Irlandia pula yang berupa layout buku untuk quick guide PPI Irlandia.

Saat ini alhamdulillah Boeloe Indonesia telah melayani puluhan pelanggan baik komunitas-komunitas seperti Komunlis yang disebutkan tadi, ada pula yang perorangan, dan bahkan ada juga yang level korporasi seperti PT Ivictus Indo Kastara dengan produknya Delicool. Boeloe Indonesia membantu dalam desain kebutuhan branding perusahaan yang kadang aku bikin dari dengan mengambil nama perusahaan sampai semua pernak-pernik kecilnya.

salah satu desain masterpiece Itfan, untuk Kawasan Industri Kendal (Oxley By The Bay)

Bagaimana sih potensi usaha desain di kota Probolinggo menurut Itfan?

Usaha desain di Probolinggo sebenarnya sangat potensial, mengingat dunia kuliner dan wisata di Probolinggo mulai berkembang pesat. Hanya saja belum banyak dari entrepreneurs yang menghargai usaha desain. Ini karena banyak dari kita yang belum memahami bahwa "usaha percetakan" dan "usaha desain" adalah dua jenis usaha yang sangat berbeda.

Boeloe Indonesia sendiri lebih melayani desain untuk korporasi. Kadang aku juga kelabakan kalau situasinya sedang dikontrak perusahaan untuk event. Jadi harus ambil outsource, tenaga tambahan, yang dalam hal ini dua teman aku di Malang. Hehehe....

Bagaimana Probolinggo mempengaruhi Itfan dalam menggeluti usaha desain ini?

Apa ya? Menurutku Probolinggo banyak sekali memberi portfolio atau track record, baik dari komunitas, UKM sampai lembaga pemerintah. Ini dapat dilihat dengan banyaknya desainku yang dipakai di berbagai tempat di Probolinggo. Itu menjadi semacam cambuk supaya aku bisa “mewarnai” kota ini untuk ke depannya dan seterusnya.

Buku apa yang Itfan baca saat kecil?

To be honest, waktu kecil aku tak membaca apapun selain komik. Karena waktu itu hanya komik yang aku punya di rumah.  Judul komik yang aku baca sejak kecil adalah Detective Conan dan Onepiece.

Siapa sih penulis idolanya Mas Itfan?

Karena suka komik, aku mengidolakan Eiichiro Oda, mangaka (*pembuat manga) dari komik "Onepiece"

Menurut Itfan, apa definisi keberhasilan?

Selama aku bisa ngopi besok pagi dan esok-esoknya lagi, itu artinya aku sudah berhasil. Untuk itu aku perlu survive dengan desainku, dan masa survival sampai saat ini adalah prestasi yang sangat membanggakan bagiku. Dengan begitu aku bisa menyeruput kopi pagi sembari cari ide untuk survive sampai esok hari.

Dan sejauh ini keberhasilan atau prestasi apa yang paling berkesan? Kenapa?

Karena keberhasilan sifatnya relatif ya, jadi menurutku prestasi yang paling berkesan adalah kalau berhasil menghidupi anak istriku dengan desain, itu sesuatu sekali.

Apa harapan Itfan kepada generasi muda di Probolinggo?

Berharap agar generasi muda Probolinggo mau terus belajar, terutama dalam hal mempelajari diri sendiri. Apa yang disukai, apa yang tidak disukai, apa kelebihan, dan apa kelemahannya, bagaimana mengembangkan kelebihan dan bagaimana cara memanfaatkan kelemahan diri.

*Karya Itfan Nur Wijayanto dapat diakses di IG @boeloeindonesia
*Untuk pemesanan jasa desain yang memuaskan, Itfan dapat dihubungi melalui WA +62 8383 4553 707