Mungkin belum banyak yang tahu kalau Kampung Warna-warni Jodipan, yang kemudian menginspirasi banyak kampung warna-warni lainnya seantero Indonesia, dipelopori oleh seorang wanita muda andal asal Gending, Probolinggo. Namanya Nabila Firdausiyah, perempuan kelahiran Probolinggo, 2 Juni 1995. Ia merupakan alumnus dari SMAN 1 Probolinggo dan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Ketika menempuh pendidikan di Malang, ia terbesit untuk menciptakan suatu terobosan dalam hal branding dan pariwisata dengan menciptakan Kampung Warna-warni Jodipan bersama timnya. Berkat keberhasilan yang luar biasa itu, ia diundang untuk menjadi narasumber di pelbagai acara, salah satunya Kick Andy, MetroTV.

Problink berkesempatan untuk mewawancarai Nabila di sela-sela kesibukannya menjadi Community Marketing Executive di sebuah perusahaan komunikasi pemasaran di Jakarta.

Sebutkan 3 hal yang menggambarkan dirimu?

Komunikasi, Biru dan Kendi

Mengapa 3 hal tersebut?

Komunikasi, karena aku adalah sosok orang yang suka berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang.

Biru, selain menyukai warna biru, aku merasa biru dapat mewakili diriku, menjadi sosok yang cerah, ceria, aktif tapi tenang, warna biru enak dan indah dipandang. Biru mewakili diriku yang tahu kapan menjadi aktif dan kapan menjadi pribadi yang tenang.

Kendi, dilihat dari filosofi kendi ya, kendi kan ada dua lubang. Lubang yang satu untuk dituangkan ke gelas dan lubang lainnya untuk diisi. Aku mengibaratkan diriku sebagai sosok yang masih haus akan pengisian-pengisian ilmu, pengalaman, sehingga ketika mendapatkan ilmu dan pengalaman, diriku juga bisa memberikan air yang telah diisi itu kepada orang lain.

Boleh cerita lingkungan masa kecilmu gimana dan di mana?

Aku menghabiskan masa kecilku di Desa Pejurangan, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Desa Pejurangan bisa dibilang desa pinggiran kota, ya, jadi suasananya tidak terlalu pedesaan. Ketika kecil, aku sudah dekat dengan alam, sawah dan kesederhanaan orang-orang desa, tetapi karena desanya terletak di pinggir jalan provinsi, jadi masih terdengar hingar-bingar mobil-mobil dan truk-truk besar.

Kalau ditanya, Nabila lebih suka memperkenalkan diri sebagai apa?

Kalau di Jakarta dan ketemu orang-orang baru di luar lingkungan kerja, aku sering memperkenalkan diri sebagai orang Probolinggo dan sekalian memperkenalkan Probolinggo. Kalau di lingkungan kerja, aku memperkenalkan diri sebagai Community Marketing Executive, jabatan yang aku pegang sekarang di Nava+ Group yang bergerak di bidang komunikasi pemasaran, seperti membuat iklan, membuat sebuah brand, termasuk hubungan masyarakat dan lain-lain.

Apakah Nabila dulu bercita-cita jadi Marketing/Public Relation/Ahli di bidang Komunikasi?

Pas masih kecil masih bingung mau jadi apa. Pas SMA aja masih nge-blank. Awal dulu masuk Ilmu Komunikasi, aku pengen jadi jurnalis. Tapi pas semester dua ada tawaran untuk ikut lomba Public Relations, sejak itu aku jadi nyemplung ke bidang PR dan ternyata suka. Lama-kelamaan udah mulai menutup sisi yang dulu suka jurnalistik untuk ambil konsentrasi PR dan berharap akan menjadi ahli dalam bidang PR dan komunikasi pemasaran.

Terus kalau prestasi paling berkesan buat Nabila selama ini?

Prestasi yang paling berkesan buat aku itu adalah proyek Jodipan. Karena pas pembuatan Kampung Warna-warni Jodipan bertepatan juga dengan wafatnya ayahku. Jodipan juga merupakan titik tertinggiku dan aku senang bisa melihat ilmu yang aku pelajari bisa bermanfaat untuk orang banyak. Soalnya ketika awal masuk kuliah Ilmu Komunikasi sempet mikir, ada gak sih manfaat ilmu komunikasi secara langsung untuk masyarakat? Selama ini aku mikirnya hanya bidang sains dan teknologi yang dapat membawa manfaat untuk masyarakat. Alhamdulillah, ketika semester 6 ada kesempatan untuk menerapkan ilmu komunikasi yang ternyata dapat bermanfaat bagi orang banyak. Dari Jodipan itu, aku juga dapat banyak penghargaan, seperti mendapat gelar founder Kampung Warna-warni Jodipan. Dari sana juga mendapat banyak undangan untuk mengisi acara-acara inspiratif, salah satunya yaitu diundang ke acara Kick Andy MetroTV. Ibu juga diundang ke sana waktu itu untuk turut hadir di studio. Selain prestasi itu, hal yang buat aku berkesan juga adalah menjadi wisudawan terbaik saat periodeku. Waktu itu Ibu sedang galau dan sedih karena ditinggal ayah, ternyata tidak lama alhamdulillah bisa mengajak ibu untuk hadir di Kick Andy dan juga maju ke podium ketika wisudaku sebagai wisudawan terbaik.

Dalam bidang komunikasi, ada gak panutan/orang yang menginspirasi kamu?

Kalau tokoh yang udah terkenal gitu masih belum ada sih, tapi kalau dosen aku ada. Beliau Pak Jamroji, yang waktu itu jadi pembimbingku ketika proyek Jodipan. Sebagai dosen, beliau memiliki integritas dan selalu menginspirasi, selalu berusaha menciptakan sesuatu yang baru dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Kalau untuk role model hidup aku, ibu aku yang terbaik. Aku lihat sosok ibuku sebagai wanita yang memang bisa aku jadikan panutan.

Definisi kesuksesan menurut Nabila itu apa?

Bisa memberikan kebahagiaan tak hanya kepada diri sendiri, tapi juga orang lain.

Apakah berencana untuk membuat sesuatu seperti Jodipan di Probolinggo?

Belum punya rencana, karena belum tau seluk beluk Probolinggo seutuhnya. Tapi pengen suatu saat melakukan sesuatu di Probolinggo, cuma belum tau apa.

Dan apa pesan untuk pemuda/i Probolinggo?

Tekuni bidang yang kalian suka, karena bisa jadi ilmu yg kalian tekuni tak hanya bermanfaat bagi diri kita sendiri, tapi bisa bermanfaat bagi orang lain