Meski tanpa TOA suaranya sudah terdengar menggelegar, gayanya preman… jadi, ummm, tak ada tuh istilah “pelecehan seksual” yang dialami m(B)ak ini, belum lagi kalau sudah datang ke sebuah acara bersama asisten pribadinya, (e)L, hmmmm… Prolink pastikan libas abis tuh acara. Hahahaha.

Kalau nggak percaya, silahkan undang sendiri. 😀

Pemilik nama asli super-panjang yang lebih baik ditulis Novita Sutanto saja ini lebih dikenal sebagai Shenobi Mikael atau Nobhi. Dan… sebelum libur mudik lebaran kemarin, Prolink sempatkan untuk mencegatnya di jalan sekitar Subertaman – Jorongan, untuk menyodorinya beberapa pertanyaan yang wajib ia jawab. Hahahaha.

Dan berikut adalah jawabannya yang dicoret-coret asal begitu saja di balik kertas struk pembelanjaan Indomaret~

WhatsApp Image 2019-06-10 at 19.23.00.jpeg
KOPI: Rupanya Nobhi juga seorang penggemar kopi~

Sebutkan 3 hal yang menggambarkan sosok Shenobi Mikael!

Jujur, pertanyaan pertama sudah bikin saya posang! Saya akan coba merangkumnya yang Nobhi banget. Mmmm… si kuda liar, lantang, and trusted.

Di mana Nobhi menghabiskan maasa kecil?

Tidak ada tempat lain selain di Probolinggo. Tepatnya di kawasan yang dikenal sebagai China Town-nya Kota Probolinggo, yaitu Jl. Dr. Soetomo. Baru kemudian mulai mandiri di luar kota, Malang tepatnya, saat menempuh kuliah.

Hal apa yang paling dikenang Nobhi dari masa kecil di Probolinggo?

Dari banyaknya kenangan indah di masa kecil, yang paling berkesan adalah kenangan waktu masih bersama kakek. Tiap kali kakek akan pergi ke luar kota untuk kulakan, dia pasti akan melambaikan tangan pada saya. Demikian juga ketika beliau pulang dari bepergian dengan sepeda kumbangnya. Setiap  mau memasuki rumah lewat gang kecil di samping, ia akan berhenti dan menunggu saya berlari menghampirinya, duduk di boncengan sepeda lalu beliau masuk sambil menuntun sepedanya.

Apa yang memotivasi Nobhi untuk terjun sebagai pekerja seni, gemar menulis dan mendirikan Sae Sanget?

Ketika balik ke kampung halaman, ada rasa geregetan ingin buat sesuatu. Karena merasa kok kota ini kelewat adem ayem. Berbekal keresahan ingin punya kantong (wadah) untuk mengeksperikan dan menggali potensi yang saya punya, maka sekitar Agustus 2012, bersama teman-teman, saya membentuk SS. Awalnya bukan kepanjangan Sae Sanget.  Melainkan Street Side, alias pinggir jalan. Kebetulan, warung tempat nongkrong kami ada di tepi jalan. Hahaha.

Dalam perjalanannya, “disesuaikan” menjadi Sae Sanget yang artinya bagus sekali. Apik sorrooo. Hahaha. Dengan harapan, langkah kecil kami waktu itu bisa menjadi langkah awal yang bagus untuk geliat seni di Probolinggo. Kami punya motto “Mari bicara lewat karya!”. Mmmm… kalau soal terjun ke dunia seni, mungkin karena menyadari bakat yang saya miliki. Sejak kecil, keluarga sangat mendukung bakat yang saya, terutama untuk seni musik dan pertunjukan. Sedang kegemaran menulis, lebih sebagai terapi terutama ketika galau, kata anak sekarang.

Sejak kapan?

Kalau menulis sih sejak SD sebenarnya suka ya, terutama kalau dapat tugas mengarang. Kan nilainya tinggi tuh kalau bagus. Beberapa kali ikut lomba cipta puisi di sekolah dan tingkat kota. Dan karya saya dibacakan ketika ada acara tertentu di  sekolah. Selain itu, waktu SMA saya sempat ikut KIR (Karya Ilmiah Remaja).

Sedangkan terjun di bidang seni pertunjukan, tumbuh saat saya kuliah di Malang. Terlebih, iklim berkesenian di Malang saat itu saya rasakan lebih hidup ketimbang kota kelahiran sendiri. Agak ngiri juga sih, timbul pertanyaan “Kapan ya di tempatku bisa seperti ini?” Saya, aktif di Teater Danta, teater kampus saya, itu yang paling banyak berperan memupuk kecintaan saya pada dunia seni pertunjukan.

Seiring berjalannya waktu, saya banyak bertemu dengan orang-orang yang memiliki passion, khususnya di bidang seni dan budaya. Di balik keindahan suatu karya, apapun itu, selalu ada hasrat kecintaan dan kedisiplinan dari pelakunya. Inilah yang kemudian menjadi pemicu semangat untuk menggali potensi diri lebih dalam lagi, baik secara personal maupun bersama pekerja seni lainnya, lalu mewujudkannya dalam karya. Dunia seni tidak lagi hanya sebagai kesenangan, melainkan ruang untuk menyampaikan gagasan atau kegelisahan saya. Terjun menjadi pekerja seni adalah belajar tentang seni bersinergi.

WhatsApp Image 2019-06-10 at 19.23.01
TANGGAPAN: Penampilan Nobhie saat cari uang receh~

Menurut Nobhi, bagaimana potensi dunia literasi dan kesenian di Probolinggo?

Menurut saya perkembangan kesenian di tiap daerah itu tidak lepas dari adanya talenta, menejemen dan ruang untuk berkarya. Probolinggo sendiri, sekarang sudah mengalami banyak kemajuan dibanding saya masih sekolah dulu. Seni tari dan teater misalnya, sudah banyak yang ikut berkiprah di luar kota dan meraih penghargaan. Dunia literasi juga jangan ditanya, geliatnya lebih hidup sekarang.

Banyak talenta bagus. Justru tantangannya adalah bagaimana mengolah talenta bagus itu agar berkembang dengan maksimal terutama di kotanya sendiri. Sanggar dan komunitas  sudah ada, namun untuk ruang apresiasi memang masih belum maksimal. Maka tidak jarang jika akhirnya bakat-bakat bagus itu mungkin lebih dikenal di luar daerah ketimbang di rumahnya sendiri. Padahal, ruang apresiasi itu juga berpotensi menjadi ruang ekonomi kreatif.

Seberapa besar pengaruh Probolinggo seorang Shenobi Mikael?

Sebagai kota kelahiran juga tempat saya menetap, jelas Probolinggo punya pengaruh kuat. Misalnya, berusaha menyisipkan hal yang mewakili ciri khas Probolinggo dalam karya atau pertunjukan yang saya buat bersama teman-teman. Selain itu, pengaruh Probolinggo bagi saya terletak pada orientasi pada hal yang saya kerjakan, yaitu untuk ikut ‘mewarnai’ dinamika berkesenian di Probolinggo.

Buku apa yang Nobhi baca waktu kecil?

Beruntungnya karena ibu selalu gemar membelikan saya majalah anak-anak. Dari majalah Bobo hingga Intisari, semua saya lahap. Selain itu, tiap kali kami pergi ke luar kota, beliau juga membelikan buku cerita anak-anak. Yang masih saya simpan judulnya adalah Dongeng Dari Seluruh Dunia. Bukunya besar dan bergambar menarik di setiap ceritanya. Apalagi dongeng itu dari berbagai Negara, seru sekali rasanya.

Siapa penulis idolamu?

Saya nggak punya penulis yang benar-benar saya idolakan akut sih. Bagi saya tiap penulis punya gaya sendiri. Saya suka Dee, Ayu Utami, Sanie B. Kuncoro, Remy Silado, Joko Pinurbo. Dan satu lagi, biarpun rada malas menyebutnya tapi karena dia sekota dengan saya, bolehlah saya sebut Stebby Julionatan. Hahahahaha….

Apa definisi keberhasilan seorang Nobhi?

Apa ya? Tidak ada patokan baku untuk ukuran kesuksesan. Tergantung bagaimana memandangnya. Bagi saya berhasil itu adalah ketika saya dan orang lain puas dengan apa yang sudah saya kerjakan. Berhasil kalau yang puas itu diri sendiri atau orang lain saja, buat apa? Hehehe…

pementasan NAA - Jawa Pos 24 Juni 2014
MASUK KORAN: Penampilan Nobhi sebagai Darsini memukau pengunjung Perpus BI, Surabaya~

Apa prestasi yang paling berkesan? Kenapa?

Saya miskin prestasi kalau tolok ukurnya lomba-lombaan. Hehehe… Iya, saya jarang banget ikut lomba. Kebanyakan sih di bidang tarik suara dan baca puisi. Tapi kalau boleh disebut prestasi berkesan adalah ketika akhirnya saya membuat rekaman Cerita Malam Untuk Sam. Sebuah karya musikalisasi puisi dari karya saya sendiri yang digarap bertiga saja dengan teman-teman SaeSwara. Dengan kondisi yang sangat apa adanya, diburu waktu pula. Berhujan-hujan ria bawa kibor ke Lumajang, di studio teman yang bisa dapat low budget pakai banget. Tapi akhirnya bisa kelar tepat waktu dan dipakai sebagai soundscape untuk sebuah pameran di Surabaya.

Apa harapan Nobhi pada generasi muda di Probolinggo?

Harapan pasti banyak ya? Tapi gini deh, kalau kita mencintai seseorang atau sesuatu, pasti akan melakukan apapun untuk menjaga hal yang kita cintai. Seperti itulah harapan saya untuk adik-adik di Probolinggo. Cintailah dan banggalah pada Probolinggo, karena rasa cinta itu yang kelak akan menuntunmu melakukan lebih banyak lagi hal bermanfaat untuk Probolinggo yang lebih ngehits! (Problink)