Sore itu Problink sedang berkeliling kota menikmati keramaian yang ada.... Eh, kok jadi kayak lagu ya? Hahaha. Nah, ketika melintas di Jl. Juanda, tepatnya di depan rumah bernomor 27, terlihat ramai orang berkumpul. Mulai dari anak kecil hingga dewasa. Kepo dong pastinya. Akhirnya, kami putuskan untuk berhenti dan juga singgah di sana.

Usut punya usut, sebenarnya lumrah juga sih kalau tempat itu ramai, karena rupanya, rumah yang Problink singgahi sore itu adalah 'markas besar' Sanggar Mardi Budaya. Salah satu sanggar tari di Kota Probolinggo. Dan, dari percakapan dengan beberapa orang yang tengah 'ngrumbul' di sana, dikatakan kalau sore itu mereka sedang menyiapkan gladi bersih untuk lomba “Kampung Tematik” mewakili Kelurahan Tisnonegaran. Dan bersyukurlah Problink ketika latihan ini dipandu langsung oleh sang empunya sanggar, Yuyun Widowati.

Di sela-sela persiapan itu, Problink gunakan kesempatan emas tersebut untuk ngobrol bersama beliau~

Mbak Yuyun pose dulu sebelum tampil nyinden

Sebutkan 3 hal yang paling mewakili sosok Mbak Yuyun?

Waduh, apa ya? Saya kok kesulitan menilai diri sendiri… Hehehe. Tapi yang pasti, saya cinta budaya tradisional, suka ngemong sama anak-anak, dan tegas. Tegas ini maksudnya saya cenderung cerewet, terutama pada anak-anak binaan saya. Biar mereka belajar disiplin.

Mbak Yuyun dari kecil tinggal di Probolinggo?

Iya, saya dari lahir ya di rumah ini. Masa kecil saya di Jalan Juanda sini. Ndak kemana-mana.

Ada kenangan khusus apa nih, di masa kecil Mbak Yuyun?

Banyak sekali. Saya kan dari kecil sudah belajar menari ya, jadi sudah sering diajak keliling mentas. Nah, karena saya ini posturnya kecil, kalau mau naik ke panggung itu pasti digendong. Pernah juga, karena saya ndak punya ukuran baju menari yang pas untuk tubuh kecil saya, akhirnya baju untuk menari itu dijahit sendiri oleh Mbah Guco, ayah saya.

Banyak 'ditanggap' dong, Mbak?

Nggak, bukan. Kalau ditanggap kan dapat bayaran? Hehehe… Ini nggak usah ditanggap, disuruh ikut-ikut aja. Apa ya, kalau orang bilang digongi, biar ikut nari aja. Buat hiburan yang seru gitu, kan saya masih kecil waktu itu. Jadi mungkin banyak yang seneng lihat anak kecil kok narinya lucu dan semangat sekali.

Wah, seru sekali ya? Ngomong-ngomong dari umur berapa sudah belajar menari? Dan tari apa yang pertama kali bisa?

Saya belajar menari kurang lebih sejak usia saya sekitar 5-6 tahun. Pokoknya saya TK itu sudah diajak nari keliling, tampil di gedung Panti Budaya dan pentas Agustusan. Guru menari saya waktu itu Bu Peno. Beliau masih ada dan sehat sampai sekarang meskipun sudah sepuh. Tari pertama yang saya kuasai itu Remo Anak-anak.

Apakah karena gemar menari sejak kecil itu yang menjadi motivasi Mbak Yuyun untuk menekuni profesi sebagai penari dan mendirikan Sanggar Seni Mardi Budaya?

Persis! Selain karena saya mencintai dunia tari, ini juga sebagai bentuk kepedulian saya untuk nguri-uri budaya agar tidak hilang. Itu yang mendorong saya mendirikan Sanggar Seni Mardi Budaya kurang lebih sejak tahun 2009. Gratis, tanpa biaya apapun. Bisa dibilang ini dharma bakti saya untuk dunia tari. Saya kan dapat ilmunya gratis, maka saya juga ingin memberikannya secara gratis, lewat sanggar ini.

Cerita juga dong mbak, soal Juanda Menari itu? Apakah program Sanggar Mardi Budoyo juga?

Betul sekali. Awalnya saya terpikir ingin membuat kegiatan yang bisa menampilkan semua anggota sanggar ini. Kan biasanya kalau lomba, pasti yang dipilih adalah yang lolos seleksi. Atau misal mau dikirim untuk mengisi acara tertentu, pasti kita tampilkan yang terbaik. Tapi kan tidak semua anak bisa kita ikutkan, karena kemampuan anak itu tidak sama. Itulah yang membuat saya akhirnya tercetus ide membuat acara Juanda Menari.

Pada tahun pertama, sekitar tahun 2011,  saya dan sanggar bergerak sendirian. Sejak awal memang saya buat seperti pawai dari ujung jalan Juanda. Melihat itu, antusias warga bagus sekali. Kemudian di tahun berikutnya, event Juanda Menari ini akhirnya saya kembangkan sekaligus untuk menjadi ruang ekonomi untuk warga sekitar jalan Juanda lewat bazaar kuliner dan kerajinan tangan.

Tadinya, acara ini saya sisipkan menjadi satu rangkaian kegiatan Suroan, salah satu acara rutin di sanggar ini untuk ikut melestarikan budaya dan kearifan lokal. Namun, sejak 2018 event Juanda Menari dilaksanakan terpisah agar bisa lebih maksimal. Apalagi event ini telah mendapat dukungan yang positif lewat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kelurahan Tisnonegaran. Kebetulan saya sebagai ketua Pokdarwis di situ. Selain itu, kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Disbudpar Kota Probolinggo. Nah, tahun 2019 ini belum. Nanti kalau ada, datang ya?

Semua mata tertuju untuk mendengar arahan mbak Yuyun

Siap, Mbak. Keren banget pastinya. Terus bagaimana pandangan mbak Yuyun dengan potensi anak muda di Probolinggo untuk berkesenian?

Kalau bicara potensi, jelas sangat berpotensi. Banyak yang berminat sebenarnya. Demikian juga dengan bakat yang dimiliki anak-anak sekarang. Dengan wadah dan pembinaan yang tepat, mereka akan berkembang menjadi generasi penerus yang unggul. Di sanggar ini misalnya, selain mereka belajar menari, mereka juga belajar banyak hal. Usia remaja terutama, adalah usia yang rentan. Untuk mengatasi kenakalan remaja dan bahaya narkoba, saya bekerja sama dengan pihak kepolisian agar memberi penyuluhan untuk mereka. Begitu juga dengan pergaulan remaja, mereka saya kenalkan tentang pemahaman resiko pada seks pra nikah. Karena saya ingin agar mereka memahami bahwa menjadi pelaku seni itu juga harus menjunjung nilai-nilai yang baik dalam masyarakat kita.

Sebagai seorang seniman tari, apa pengaruh Probolinggo dalam karya Mbak Yuyun?

Sebenarnya lingkungan keluarga saya kan memang bukan asli orang Probolinggo ya? Lebih kental budaya Jawa Tengah, karena memang keturunan dari Solo tepatnya. Tapi karena keluarga saya sudah lama menetap di Probolinggo, maka Probolinggo juga memberi warna pada karya yang saya ciptakan. Pada tari Kasmaran misalnya, saya memasukkan iringan kenong telok karena iramanya yang rancak. Cocok sekali dengan tipikal masyarakat Probolinggo yang jujur, keras, tapi juga ramah dan hangat. Jadi walaupun keseharian pribadi saya sangat njawani, namun dalam karya bisa dibilang unsur Probolinggo lebih kental.

Prestasi apa yang paling berkesan? Kenapa?

Tahun 2016, anak-anak sanggar saya pernah menjadi bintang iklan Red Bull. Syutingnya di lautan pasir Bromo. Padahal itu sama sekali nggak nyangka. Tiba-tiba saya dikabari seorang teman yang jadi guide, disuruh ikut buat audisi hari itu juga. Persiapan juga minim, karena mendadak itu tadi. Ndilalah, kok begitu lihat anak-anak menari, sutradara iklannya langsung setuju. Besoknya langsung balik lagi bawa kostum lengkap. Semua ditanggung pihak mereka dan kerja samanya juga nggak ribet. Itu pertama kali kerjasama dengan orang asing ya, jadi rasanya bangga banget. Nanti coba cari di channel Youtube ya…hehehe…

Kereeeen…! Nah, balik lagi lebih dalam dengan pribadi Mbak Yuyun nih, siapa sih tokoh idolanya mbak Yuyun?

Didik Nini Thowok. Soalnya beliau seorang penari yang serba bisa. Main film ok, ketoprak atau ludruk juga bagus.

Tadi kita sudah bicara banyak soal dunia menari, kalau soal membaca, suka bacaan apa? Apa ada penulis idola juga?

Saya suka baca novel sih. Tapi waktu kecil, saya suka sekali membaca dongeng dan cerita rakyat. Waktu SD saya khatam membaca kisah Mahabaratha dan Ramayana yang bukunya tebal itu. Dan kisah-kisah itu saya hafal, sehingga bisa menjadi bahan mendongeng sebelum tidur pada anak-anak saya saat mereka masih kecil. Selain itu saya juga suka membaca majalah Jaya Baya, majalah berbahasa Jawa. Apa lagi ya? Oiya, bacaan tentang kawruh sapala. Apa istilahnya ya? Pokoknya seputar ragam manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Misal pengobatan tradisional, cara merawat rumah, seperti tips-tips gitu. Kalau penulis idola saya nggak punya, pokoknya tulisannya bagus, ceritanya saya suka ya sudah…hehehe…

Bagaimana Mbak Yuyun memaknai keberhasilan?

Sederhana saja. Berhasil bagi saya itu kalau karya saya bisa diterima, dinikmati dan menghibur banyak orang.

Apa sih prinsip atau pedoman hidup Mbak Yuyun dalam melakoni banyak hal, termasuk mengayomi sanggar yang Mbak pimpin ini?

Memberi itu jangan pernah pamrih. Saya nggak mampu membagikan materi. Yang saya mampu ya membagikan skill saya untuk menari dan juga kasih sayang. Kasih sayang itu pek-pek’en wis.

Apa harapan Mbak Yuyun bagi generasi muda Probolinggo?

Kalau buat generasi muda, yang paling terjangkau buat saya adalah harapan untuk anak-anak yang saya bina. Saya ingin mereka bisa berkreasi lebih baik lagi dari pada saya. Selain itu, saya berharap, mereka bisa menularkan ilmu dan kemampuan yang mereka dapat di sini pada orang lain agar kesenian kita tetap lestari.